Pagi belum sepenuhnya meninggalkan embun ketika puluhan ribu jamaah mulai memadati Masjid Istiqlal pada hari Sabtu 7 September 2026.
Sejak pukul 08.00 hingga 11.30 WIB, sekitar 59.000 jamaah larut dalam satu suasana yang sama: khidmat, tenang, dan penuh harap. Di sanalah doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk keselamatan diri, tetapi untuk keselamatan indonesia.
Acara “Bersatu dalam Doa untuk Keselamatan Indonesia” yang dirangkai dengan Pengukuhan Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi ruang pertemuan spiritual sekaligus kebangsaan. Hadir lengkap Pengurus Pusat MUI, Dewan Pertimbangan MUI, serta para pengurus Komisi, Badan, dan Lembaga di lingkungan MUI, menandai kesinambungan amanah ulama bagi umat dan bangsa.
Di tengah lautan manusia itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto turut hadir bersama sejumlah jajaran menteri. Kehadirannya menegaskan bahwa doa dan negara tidak berjalan di jalur yang terpisah. Dalam taklimatnya, Presiden menekankan peran strategis MUI sebagai perekat persatuan umat, penjaga nilai moral, sekaligus mitra kebangsaan.
Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa kebersamaan antara ulama dan umara merupakan fondasi penting kejayaan bangsa. Dari sinergi itulah Indonesia dapat tumbuh sebagai bangsa yang kuat, mandiri, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa kehilangan jati diri.
Doa-doa yang dipanjatkan pagi itu melayang ke langit, namun maknanya tertanam di bumi. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa persatuan tidak selalu lahir dari sorak-sorai, melainkan dari ketundukan hati, kebersamaan niat, dan keyakinan bahwa Indonesia hanya akan selamat bila dirawat bersama.
Di akhir acara, gema doa dan harapan berpadu—menjadi janji sunyi bahwa ulama, umara, dan umat akan terus berjalan seiring, menjaga negeri ini dalam bingkai iman, persatuan, dan cita-cita luhur kebangsaan.