Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Di antara perintah agung dalam Islam adalah **zakat**, yang selalu berdampingan dengan shalat dalam Al-Qur’an.
Allah ﷻ berfirman:
Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat… (QS. Al-Baqarah: 43)
Zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi bukti kepedulian sosial dan tanda kesempurnaan iman. Bahkan Allah menegaskan:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…”(QS. At-Taubah: 103)
Zakat membersihkan harta dan jiwa. Membersihkan dari sifat kikir, cinta dunia berlebihan, dan ketidakpedulian terhadap sesama.
Zakat menjadi Pilar Keimanan dan Solidaritas
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Islam dibangun atas lima perkara… menunaikan zakat…”* (HR. Bukhari dan Muslim)
Zakat adalah rukun Islam. Artinya, zakat bukan pilihan, melainkan kewajiban yang mengokohkan bangunan agama.
Namun zakat bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah, melainkan juga hubungan horizontal kepada sesama manusia. Ia adalah jembatan antara yang mampu dan yang membutuhkan.
Ketika zakat ditunaikan dengan benar, tidak akan ada kesenjangan yang menyakitkan. Tidak ada orang kelaparan di tengah limpahan harta.
Zakat juga menjadi wujud nyata kepedulian Sosial. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ adalah teladan kepedulian. Dalam hadis disebutkan:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau adalah orang yang paling dermawan, terlebih di bulan Ramadhan. Kedermawanan beliau diibaratkan seperti angin yang berhembus—cepat dan menyeluruh manfaatnya.
Beliau tidak hanya memberi dari kelebihan, tetapi terkadang memberi dari apa yang beliau miliki, meski dalam keadaan sederhana.
Ini mengajarkan bahwa kepedulian sosial bukan soal banyak atau sedikit, tetapi soal keikhlasan dan kepedulian hati.
Di masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, zakat dikelola dengan amanah dan adil. Hingga diriwayatkan, sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat karena kesejahteraan merata.
Demikian pula Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat. Mengapa? Karena zakat bukan sekadar harta, tetapi simbol ketaatan dan keutuhan umat.
Ada pula kisah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat kaya raya. Hartanya melimpah, namun hatinya tidak terpaut pada dunia. Ia sering menyedekahkan kafilah dagangnya di jalan Allah.
Mereka memahami bahwa harta hanyalah titipan. Yang kekal adalah apa yang diberikan di jalan Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di tengah realitas hari ini—ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan kesulitan hidup—zakat dan kepedulian sosial adalah solusi Islam yang nyata.
Jika setiap muslim menunaikan zakat dengan benar:
1. Fakir miskin terangkat martabatnya.
2. Pendidikan anak yatim terjamin.
3. Dakwah dan kemaslahatan umat berjalan.
Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperkuat kepedulian sosial. Jangan sampai kita kenyang berbuka, sementara tetangga kita menahan lapar.
Allah ﷻ berfirman: “Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Harta kita bukan sepenuhnya milik kita. Di dalamnya ada hak orang lain. Maka tunaikan zakat dengan penuh keikhlasan, dan hidupkan budaya infak dan sedekah sebagai wujud kepedulian.
Aqulu qauli hadza wa astaghfirullah li walakum…
Khutbah Kedua
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum memperkuat solidaritas umat. Jangan sampai ibadah kita hanya bersifat pribadi, tetapi abai terhadap penderitaan saudara kita.
Zakat bukan mengurangi harta, tetapi menambah keberkahan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)
Yang berkurang hanyalah angka, tetapi yang bertambah adalah pahala, ketenangan, dan keberkahan hidup.
Marilah kita:
* Hitung zakat dengan benar.
* Salurkan kepada yang berhak.
* Biasakan berbagi, bukan menunggu kaya untuk peduli.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dermawan, peduli, dan dicintai oleh-Nya.
Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang menunaikan zakat dengan ikhlas.
Ya Allah, lembutkan hati kami untuk peduli kepada sesama.
Ya Allah, berkahi harta kami dan jadikan ia jalan menuju surga-Mu.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar.
Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan wa ita’idzi al-qurba wa yanha ‘anil fahsya’i wal munkar wal baghyi, ya’izhukum la’allakum tadzakkarun.
Aqimis shalah.