menu melayang

Ketika Benang Itu Mulai Terurai...

Tidak ada peradaban besar yang lahir secara tiba-tiba.
Tidak ada organisasi besar yang berdiri hanya karena satu orang.
Tidak ada keluarga yang kokoh tanpa kesabaran.
Tidak ada kepercayaan yang tumbuh tanpa proses panjang.
Semuanya dirajut.
Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Seperti seseorang yang memintal benang.

Maka sangat menggetarkan ketika Al-Qur'an menggambarkan kerusakan sosial dengan sebuah perumpamaan yang sederhana namun menghunjam:
"Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya setelah dipintal kuat menjadi tercerai-berai..." (QS. An-Nahl: 92)

Ayat ini seakan mengajak kita bertanya:
Berapa banyak benang yang telah dirajut oleh para pendahulu, tetapi justru terurai di tangan generasi penerusnya?

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun terkait orang-orang yang membatalkan janji dan kesepakatan setelah sebelumnya mereka ikrarkan dengan sungguh-sungguh.

Namun Al-Qur'an selalu memiliki daya jangkau yang melampaui ruang dan waktu.
Karena sesungguhnya setiap pengkhianatan memiliki pola yang sama.
Awalnya ada komitmen.
Lalu muncul kepentingan.
Kemudian prinsip mulai ditawar.
Akhirnya amanah dikorbankan.
Tidak selalu karena kebencian.
Tidak selalu karena permusuhan.

Sering kali justru karena godaan yang tampak menguntungkan.
Allah mengabadikannya dalam firman-Nya: "...karena ada suatu golongan yang lebih banyak keuntungannya daripada golongan yang lain..."

Di sinilah penyakit itu bermula.
Ketika kesetiaan tidak lagi dibangun di atas nilai, tetapi di atas manfaat.
Ketika prinsip tidak lagi menjadi kompas, melainkan menjadi barang yang bisa ditukar.
Ketika amanah tidak lagi dijaga, tetapi dinegosiasikan.

Sejarah mengajarkan bahwa umat tidak selalu runtuh karena musuh yang kuat.
Banyak yang runtuh karena dirinya sendiri.
Benteng yang kokoh sering kali roboh bukan karena meriam dari luar, tetapi karena retak dari dalam.

Begitu pula organisasi.
Begitu pula masyarakat.
Begitu pula bangsa.
Yang menghancurkan mereka bukan semata-mata lawan. Melainkan hilangnya kepercayaan di antara sesama.
Karena sesungguhnya kekuatan terbesar sebuah komunitas bukan jumlah anggotanya.

Bukan besar asetnya. Bukan luas pengaruhnya. Melainkan tingkat kepercayaan yang hidup di dalamnya.

Saat kepercayaan hilang, semuanya perlahan kehilangan ruh.

Dalam kehidupan organisasi keagamaan, pesan ayat ini terasa sangat mendalam.

Sebuah jam'iyyah tidak dibangun oleh satu muktamar. Tidak pula lahir dari satu generasi. Ia tumbuh dari doa-doa panjang para ulama. Dari keikhlasan para guru. Dari pengorbanan para kader. Dari kesabaran orang-orang yang memilih bekerja dalam diam.

Mereka memintal benang sedikit demi sedikit. Menyusun batu demi batu. Menanam pohon yang mungkin buahnya baru dinikmati puluhan tahun kemudian.

Maka ketika muncul sikap yang gemar memecah, mempertentangkan, atau merusak demi kepentingan sesaat, sesungguhnya yang sedang dirusak bukan hanya sebuah sistem. Yang sedang dirusak adalah warisan pengorbanan banyak orang.

Namun ayat ini tidak hanya berbicara tentang organisasi.
Ia juga berbicara tentang diri kita.
Karena setiap manusia sebenarnya sedang memintal benangnya masing-masing.
Ada yang sedang memintal ilmu.
Ada yang sedang memintal amal.
Ada yang sedang memintal keikhlasan.
Ada yang sedang memintal kesabaran.
Ada yang sedang memintal kedekatan dengan Allah.

Sayangnya, tidak sedikit yang telah lama membangun dirinya, lalu perlahan mengurai semuanya karena nafsu yang tidak terkendali.

Bertahun-tahun belajar rendah hati.
Lalu hancur oleh kesombongan.
Bertahun-tahun menjaga keikhlasan.
Lalu rusak oleh keinginan dipuji.

Bertahun-tahun berjuang menjaga hati.
Lalu runtuh oleh ambisi yang berlebihan.
Karena itu para ulama tasawuf sering mengingatkan: "Tidak semua orang yang berhasil memulai perjalanan mampu menyelesaikannya dengan baik."

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh dengan godaan untuk menjadi pengurai benang.

Media sosial sering mengajarkan kita untuk cepat bereaksi.

Cepat menuduh. Cepat menyalahkan. Cepat memutuskan. Tetapi sangat lambat untuk memahami. Akibatnya banyak jembatan yang terbakar. Banyak hubungan yang rusak. Banyak kepercayaan yang hilang.
Padahal membangun kembali apa yang sudah hancur jauh lebih sulit daripada menjaganya agar tetap utuh.

Mungkin karena itulah ayat ini layak menjadi bahan muhasabah bagi siapa pun.

Sebelum berbicara, tanyakan: Apakah ucapan ini sedang merajut atau mengurai?

Sebelum bertindak, tanyakan: Apakah langkah ini sedang menguatkan atau merusak?

Sebelum mengambil keputusan, tanyakan: Apakah ini akan meninggalkan warisan kebaikan atau justru membuka pintu perpecahan?

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil kita bangun.

Tetapi juga tentang apa yang berhasil kita jaga.

Dan di hadapan Allah kelak, mungkin salah satu pertanyaan terpenting bukanlah: "Apa yang telah engkau dirikan?"

Melainkan: "Apa yang telah engkau lakukan terhadap apa yang telah Aku titipkan kepadamu?"

Apakah kita menjaganya? Ataukah justru menguraikannya kembali setelah ia menjadi kuat?
Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Proyek Pembangunan

Mahir Bahasa Arab

Cari Artikel