Pagi itu, suasana Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, terasa berbeda. Para muktamirin datang dengan satu perhatian yang sama: siapa yang akan dipercaya menjadi nahkoda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk lima tahun ke depan?
Di tengah hiruk-pikuk Muktamar Ke-35 NU, nama-nama beredar. Percakapan kecil terjadi di sudut-sudut arena muktamar. Para peserta saling bertukar pandangan, membaca perkembangan, dan menunggu satu momen yang paling ditunggu: keputusan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Muktamar bukan sekadar forum untuk memilih seorang ketua umum. Di dalamnya ada sejarah panjang, harapan warga NU, dan amanah yang begitu besar.
Senin, 31 Agustus 2026, penantian itu akhirnya menemukan jawabannya.
Sembilan anggota AHWA bermusyawarah. Suasana yang sebelumnya dipenuhi berbagai pembicaraan tentang masa depan NU berubah menjadi lebih hening. Sekitar 40 menit mereka berdiskusi untuk menentukan sosok yang akan memimpin PBNU masa khidmah 2026–2031.
Tidak ada riuh kemenangan.
Tidak ada pertarungan terbuka.
Keputusan justru lahir melalui musyawarah dan mufakat.
Nama KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa **Gus Kikin**, akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Keputusan tersebut kemudian dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh sembilan anggota AHWA.
Dari sebuah ruang musyawarah, sebuah amanah besar pun berpindah tangan.
Gus Kikin kini dipercaya mengemban tanggung jawab untuk membawa organisasi yang memiliki jutaan warga itu memasuki periode baru.
Suasana Muktamar pun seolah mendapatkan titik terang. Setelah penetapan Ketua Umum, rangkaian agenda berlanjut pada pembentukan formatur yang akan melengkapi kepengurusan PBNU periode mendatang.
Bagi warga NU, pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian nama di pucuk organisasi. Ada harapan agar NU semakin kuat menjaga tradisi keilmuan, semakin hadir menjawab persoalan umat, dan semakin mampu berkhidmat bagi bangsa.
Dari Tambakberas, pesan itu kembali terasa: bahwa kepemimpinan NU lahir dari proses panjang, musyawarah, dan amanah.
Kini, setelah keputusan diambil, sorotan tidak lagi sekadar tertuju pada siapa yang menjadi Ketua Umum.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih besar:
Ke mana NU akan dibawa selama lima tahun ke depan?
Dan dari arena Muktamar Ke-35 di Tambakberas itulah, perjalanan baru PBNU 2026–2031 resmi dimulai.
Selamat mengemban amanah, Gus Kikin.
Semoga kepemimpinan baru PBNU membawa NU semakin maslahat, semakin kokoh dalam khidmah, dan semakin dekat dengan kebutuhan umat.