اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan dalam menghadapi kehidupan akhirat.
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita. Dengan nikmat tersebut, kita masih diberi kesempatan untuk beribadah, bekerja, menunaikan tanggung jawab, serta mempersiapkan bekal bagi kehidupan yang akan datang.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali terlupakan di tengah kesibukan sehari-hari: bagaimana nasib anak-anak kita ketika suatu hari nanti kita telah tiada?
Sebagai orang tua, kita tentu menginginkan anak-anak kita hidup bahagia. Kita ingin mereka memiliki kehidupan yang layak, memperoleh pendidikan yang baik, serta tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak mulia.
Namun, keinginan itu tidak cukup hanya disimpan sebagai harapan. Ia harus diwujudkan melalui tanggung jawab, perencanaan, pendidikan, dan keteladanan sejak sekarang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan yang sangat mendalam dalam firman-Nya.2.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
QS. An-Nisa: 9
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak hanya memikirkan kehidupan kita hari ini, tetapi juga memikirkan keadaan generasi yang akan kita tinggalkan.
Jangan sampai ketika kita masih hidup, anak-anak kita mendapatkan perhatian dan perlindungan, tetapi ketika kita telah meninggal dunia, mereka justru menghadapi kehidupan tanpa bekal yang memadai.
Jangan sampai kita meninggalkan anak-anak yang lemah, yang tidak memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan, tidak memiliki pegangan agama, dan tidak memperoleh pendidikan yang cukup untuk menghadapi masa depan.
ada tiga bentuk kelemahan yang perlu menjadi perhatian kita bersama.
3. Pertama: Jangan Tinggalkan Generasi yang Lemah secara Ekonomi
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kelemahan pertama yang perlu kita antisipasi adalah kelemahan ekonomi.
Islam mengajarkan kepada kita agar orang tua memperhatikan kehidupan anak-anaknya. Kita tidak menginginkan anak-anak kita kelak menjadi beban bagi orang lain, menggantungkan hidup kepada orang lain, atau tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Karena itulah, seorang ayah dituntut untuk bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Mencari nafkah bukan semata-mata aktivitas duniawi, tetapi dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan cara yang benar dan diniatkan untuk memperoleh rida Allah.
Rasulullah ﷺ memberikan motivasi kepada umatnya agar memperhatikan nafkah keluarga. Bahkan, nafkah yang diberikan kepada keluarga dengan mengharapkan rida Allah dapat bernilai sedekah.
Betapa besar nilai tanggung jawab tersebut. Apa yang kita keluarkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tidaklah sia-sia di sisi Allah apabila disertai niat yang ikhlas.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Karena itu, memikirkan masa depan ekonomi anak bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan tawakal. Justru, usaha dan perencanaan merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus kita jalankan.
Kita perlu membangun semangat bekerja, membiasakan anak-anak memiliki kemandirian, serta mempersiapkan kehidupan mereka agar tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Perhatikanlah bagaimana para nabi juga menjalani kehidupan dengan bekerja dan berusaha.
Nabi Ibrahim alaihissalam dikenal sebagai seorang pedagang.
Nabi Zakaria alaihissalam bekerja sebagai tukang kayu.
Nabi Daud alaihissalam bekerja sebagai tukang besi.
Nabi Musa alaihissalam pernah menggembalakan kambing.
Nabi Muhammad ﷺ juga pernah menjalani aktivitas perdagangan.
Kisah-kisah tersebut mengingatkan kita bahwa bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari kehidupan yang terhormat.
Oleh sebab itu, jangan biarkan masa depan ekonomi anak-anak kita tanpa perhatian. Persiapkan mereka dengan pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan semangat kemandirian.
Jangan hanya mewariskan harta kepada anak-anak kita. Bekali pula mereka dengan kemampuan untuk menjalani kehidupan.
4. Kedua: Jangan Tinggalkan Generasi yang Lemah Iman dan Agamanya
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kelemahan kedua adalah kelemahan iman dan agama.
Persoalan ini sangat penting karena agama merupakan pegangan dalam menjalani kehidupan. Ketika seorang anak tidak memiliki pemahaman agama yang baik, ia dapat kehilangan arah dalam menentukan sikap dan menghadapi berbagai tantangan.
Kehidupan yang akan mereka hadapi tidak selalu mudah. Mereka akan berhadapan dengan berbagai pengaruh lingkungan, perubahan zaman, pergaulan, dan beragam tantangan moral.
Karena itu, kita tidak cukup hanya mempersiapkan anak-anak dengan kemampuan ekonomi. Kita juga harus membekali mereka dengan iman, pemahaman agama, dan akhlak yang baik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
QS. At-Tahrim: 6, penggalan ayat
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tanggung jawab seorang muslim tidak berhenti pada keselamatan dirinya sendiri. Ia juga memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya.
Kita tentu berharap dapat meraih keselamatan di akhirat. Namun, bukankah kebahagiaan itu akan semakin bermakna apabila keluarga kita juga memperoleh keselamatan?
Lalu, bagaimana cara kita membangun kekuatan iman dan agama pada diri anak-anak?
Pertama, berikan pemahaman agama yang benar. Ajarkan kepada mereka apa yang harus diyakini, apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus dijauhi.
Kedua, jadikan agama sebagai bagian nyata dari kehidupan keluarga. Jangan sampai agama hanya menjadi nasihat yang terdengar ketika ceramah, tetapi tidak terlihat dalam perilaku sehari-hari di rumah.
Ketiga, berikan keteladanan. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi juga memperhatikan apa yang kita lakukan. Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadi contoh dalam ibadah, kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak.
Keempat, dekatkan anak-anak kepada Rasulullah ﷺ dengan mengenalkan kehidupan dan keteladanan beliau.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
QS. Al-Ahzab: 21, penggalan ayat
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tanamkan dalam diri anak-anak kita kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kenalkan mereka kepada akhlak beliau, perjuangan beliau, dan ajaran yang beliau bawa.
Dengan demikian, anak-anak memiliki teladan yang dapat mereka jadikan pegangan dalam menjalani kehidupan.
Jangan hanya berharap anak-anak kita menjadi orang yang berhasil di dunia. Bimbinglah mereka agar memiliki iman yang kokoh dan akhlak yang mulia.
5. Ketiga: Jangan Tinggalkan Generasi yang Lemah Ilmu dan Pendidikannya
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kelemahan ketiga yang harus kita antisipasi adalah kelemahan ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan. Dengan ilmu dan kemampuan yang memadai, mereka memiliki bekal untuk mengembangkan diri, menjalani kehidupan, dan membangun kesejahteraan.
Karena itu, perhatian orang tua tidak boleh hanya tertuju pada pemenuhan kebutuhan ekonomi dan pembinaan agama. Pendidikan anak juga harus menjadi bagian dari perencanaan masa depan keluarga.
Kita perlu berusaha memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang baik. Kita perlu mendukung mereka agar memiliki ilmu, wawasan, dan kemampuan yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Terkadang, mempersiapkan pendidikan anak membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Namun, jangan sampai kesibukan dan kebutuhan hari ini membuat kita melupakan masa depan mereka.
Pikirkanlah apa yang dapat kita persiapkan sejak sekarang. Berikan dukungan sesuai kemampuan kita. Bimbing mereka agar memiliki semangat belajar dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Sebab, anak-anak yang kita besarkan hari ini adalah generasi yang kelak akan menjalani kehidupan ketika kita sudah tidak lagi berada di sisi mereka.
Maka, jangan biarkan mereka memasuki masa depan tanpa bekal pengetahuan dan pendidikan yang memadai.
Harta dapat habis, keadaan dapat berubah, tetapi ilmu dan kemampuan yang telah dipelajari dapat menjadi bekal berharga dalam perjalanan kehidupan.
6. Penutup Khutbah Pertama
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dari uraian ini, kita memahami bahwa mempersiapkan masa depan anak merupakan tanggung jawab besar yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua.
Ada tiga hal penting yang perlu kita persiapkan:
Kekuatan ekonomi, agar anak-anak memiliki kemandirian dan kemampuan menjalani kehidupan.
Kekuatan iman dan agama, agar mereka memiliki pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kekuatan ilmu dan pendidikan, agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan kemampuan untuk membangun masa depan.
Ketiganya perlu kita perhatikan secara sungguh-sungguh.
Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun kehidupan hari ini, tetapi lupa menyiapkan kehidupan generasi yang akan kita tinggalkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali mengingatkan kita melalui penggalan ayat:
فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
QS. An-Nisa: 9, penggalan ayat
Ayat ini juga mengingatkan kita agar berbicara dengan benar kepada anak-anak kita. Beranilah memberikan nasihat, menjelaskan mana yang baik dan mana yang harus ditinggalkan, serta membimbing mereka dengan perkataan yang benar dan penuh tanggung jawab.
Jangan biarkan anak-anak berjalan tanpa arahan. Bimbinglah mereka dengan ilmu, keteladanan, kasih sayang, dan doa.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga agama kita, memberikan kekuatan kepada kita dalam mendidik anak-anak, dan menjadikan generasi setelah kita sebagai generasi yang beriman, berilmu, mandiri, serta mampu menjalankan tanggung jawabnya.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Jamaah dipersilakan duduk sejenak sebelum khutbah kedua.
KHUTBAH KEDUA
1. Mukadimah
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Khutbah ini mengingatkan kita bahwa masa depan anak-anak tidak cukup dipersiapkan dengan harapan dan kecemasan. Ia membutuhkan tindakan nyata dari orang tua: bekerja dan merencanakan kehidupan, membina iman dan akhlak, serta memberikan perhatian terhadap pendidikan.
Jangan menunggu hingga anak-anak menghadapi kesulitan baru kita memikirkan bekal mereka. Mulailah dari rumah kita, dari kemampuan yang kita miliki, dan dari langkah-langkah sederhana yang dapat kita lakukan hari ini.
Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang mampu menunaikan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
2. Doa Penutup
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Ya Allah, bimbinglah kami agar mampu menjalankan amanah sebagai orang tua. Karuniakan kepada kami kesabaran, kebijaksanaan, dan kekuatan untuk mendidik anak-anak kami.
Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami generasi yang kuat imannya, baik akhlaknya, luas ilmunya, dan mandiri kehidupannya.
Ya Allah, lindungilah keluarga kami dari segala keburukan. Dekatkanlah hati kami kepada-Mu, dan jadikanlah rumah tangga kami sebagai tempat tumbuhnya keimanan, ilmu, dan amal saleh.
Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami meninggalkan generasi yang lemah. Karuniakanlah kepada anak-anak kami bekal yang cukup untuk menjalani kehidupan di dunia dan keselamatan di akhirat.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.